Bupati BBS Ikuti Rakor di Jakarta, Fokus Antisipasi Karhutla 2026

Avatar

JAKARTA — Mengantisipasi datangnya musim kemarau, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah pencegahan ini dinilai krusial mengingat dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat secara luas.

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno, saat menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla yang berlangsung di Aula Lantai 2 Plaza Kuningan, Menara Selatan Kementerian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, yang dalam arahannya menekankan pentingnya langkah cepat dan terukur dari pemerintah daerah. Ia meminta agar status siaga darurat segera ditetapkan di wilayah rawan, disertai penguatan upaya pencegahan serta kesiapan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan dukungan anggaran.

Baca Juga :  Sekda Tanjab Barat Pimpin Upacara Peringatan HUT Provinsi Jambi ke-68, Berlangsung Khidmat Meski Cuaca Tak Mendukung

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta untuk kembali mengaktifkan satuan tugas (satgas) terpadu di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota guna memperkuat koordinasi di lapangan.

Menteri Hanif mengungkapkan bahwa potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, lalu meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan. Selanjutnya, puncak kerawanan diprediksi terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Ia juga menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan harus dilakukan tanpa kompromi. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Provinsi Jambi Konsultasi ke Kementerian PPN/Bappenas Terkait Inpres Guna Dalami Program MBG

Upaya pencegahan karhutla tahun 2026 akan difokuskan pada enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah tersebut menjadi perhatian utama karena memiliki kawasan gambut yang luas dan rentan terbakar.

Langkah ini didasarkan pada prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memprediksi musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang.

Selain itu, fenomena El Nino lemah hingga moderat dengan probabilitas 50–80 persen juga diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun 2026.(Red-Jawar4)